Surat Untuk Orang Terkasih

Kak, baru saja bunda cerita tentang Kak.
Ada suatu kekhawatiran yang mengganggu pikiran Kak, katanya.
Kenapa Kak tidak cerita ??
Inget kan Kak, sepahit apapun, seburuk apapun, kita akan saling jujur cerita apa adanya ??

Kak tahu kenapa De’ menerima tawaran kasih sayang Kak ??
Kenapa De’ pilih Kak sebagai calon pendamping De’ ??
Harusnya pertanyaan ini tidak perlu De’tulis.
Tapi dengan sangat terpaksa De’ harus tulis biar kita teringat kembali moment-moment itu, biar Kak tidak ragu atau khawatir.

Saat itu, Kak menawarkan sebuah bentuk kasih sayang yang sederhana, kasih sayang yang tidak memaksa tapi ikhlas menerima semua yang ada, kasih sayang yang tidak tercemar virus ‘materi’, ‘jabatan/pekerjaan’, ’keturunan’, atau ‘strata pendidikan’, kasih sayang yang menuntut kita untuk saling mengingatkan satu sama lain dalam proses memperbaiki diri.
Kak menekankan berkali-kali, manusia sering lupa, kondisi yang ada terkadang menyebabkan manusia berbuat salah.
Makanya kita harus terus saling mengingatkan.

Bagi De’ tawaran itu unik dan menarik, De’ jadi tahu kualitas Kak, jadi tahu keinginan Kak yang ingin terus memperbaiki diri, dan jadi tahu juga kalo Kak sadar bahwa Kak adalah manusia yang sering bikin salah.
Saat itu De’ jatuh cinta, pada tawaran kasih sayang Kak.. kasih sayang yang sederhana..

Semakin hari, De’ makin mengenal pribadi Kak.
Tidak sama dengan pribadi De’, tapi memang harus begitu.
Agar bisa saling melengkapi dan saling memberi warna. Kita masing-masing sudah punya warna, tapi dengan bersamanya kita De’ melihat adanya proses pengkayaan warna di masing-masing.
Agar terlihat makin indah dan harmonis. Walaupun terkadang saat proses itu terjadi, masing-masing ingin mempertahankan warnanya..(sifat egoisme kita memang tidak mudah untuk dihilangkan Kak)..
Tapi pada akhir proses tersebut kita selalu membuat formula khusus, yang membuat warna kita lebih kaya.. Dan kita selalu memberi senyum mesra setelahnya.
De’ selalu menikmati proses itu, karena De’ anggap itu juga salah satu proses belajar kita untuk menjadi lebih baik..

De’ meyakini bahwa Kak adalah hadiah untuk De’, jawaban atas semua doa De’ selama ini.
De’ yakin karena De’ sudah berkali-kali shalat Istikharah untuk memastikan apakah Kak adalah calon imam yang tepat untuk De’.
Semakin kesini, keyakinan De’ makin kuat.. bahwa Kak adalah orang yang tepat dan memenuhi kriteria De’.

Lalu kenapa sekarang Kak ragu dengan tujuan kita ??
Kenapa Kak ragu, apakah dapat membahagiakan De’ ??
Kak, kalau bunda tidak cerita, De’ gak akan pernah tahu apa alasan sebenarnya. Dan sampai kapan pun De’ akan selalu terjebak dengan pemikiran De’ sendiri..bahwa De’ bukan yang terbaik menurut Kak.

De’ tahu kondisi Kak yang sedang ‘sakit’. De’ tahu kebenaran itu.. De’ sudah tahu..
Kak, kita sama-sama fight ya untuk kesembuhan Kak.. please Kak, jangan menyerah sekarang.
Jangan menyerah terhadap kondisi Kak saat ini.
De’ akan bantu, bunda juga akan bantu, keluarga juga akan bantu, semua akan bantu, terlebih Allah juga akan bantu Kak. Karena kami semua sayang Kak.
Jika Allah mengijinkan ini terjadi pada diri Kak, berarti Allah anggap Kak bisa melewatinya. Semua itu masih berada dalam kemampuan Kak untuk mengatasinya…
Kak pasti bisa lulus untuk ujian ini.. Insya Allah Kak.

Kak, masih yakin kan sekecil apapun perbuatan kita akan kita pertanggungjawabkan kelak saat kembali padaNya ??
Kak, masih yakin juga kan bahwa Allah menciptakan manusia dalam keadaan suci dan kecenderungan bersujud padaNya ??
itu semua yang selalu Kak ingatkan ke De’.. sehingga De’ selalu belajar untuk menjaga sikap dan tutur kata De’.

Allah menceritakan betapa Dia sangat membenci bahkan sangat mengutuk kaum Nabi Luth yang dengan sombongnya ingkar ke Allah dengan mencintai sesama jenis. Inget Kak ??
Tertulis di Quran.. bahkan kita pernah membahas detil solusi-solusi yang mungkin.
Dari pendekatan medis, agama, psikologi, keluarga dan lingkungan.

De’ yakin hati nurani Kak takut padaNya dan menolak bisikan-bisikan iblis itu di diri Kak.
De’ juga percaya saat ini bisikan itu juga makin kuat di diri Kak. De’ bisa memahami itu semua..
Berada di titik persimpangan seperti ini membuat Kak sakit dan menderita.
Bahkan Kak mungkin ingin teriak keras, ingin keluar dari ini semua..
Bahkan Kak mungkin ingin kematian cepat menghampiri Kak, sehingga lepas dari masalah ini..
De’ paham kondisi itu.

Kak, De’ sayang Kak, bunda sayang Kak, keluarga sayang Kak, Allah juga sayang Kak..
Tolong jangan menyebrang ke arah yang Kak akan susah mempertanggungjawabkan kelak.
Tolong jangan menyerah, jangan putus asa pada bantuan dan karunia Allah.
Tolong jangan menjauh dari kami karena malu dengan kondisi tersebut.
Tolong jangan berfikir itu adalah penyakit yang tidak ada obatnya. Please Kak.. please..

Kami akan temani Kak melewati itu semua..
kami akan jaga Kak semaksimal kami agar ‘teman-teman yang tidak ingin sembuh’ tidak mampu menarik Kak..
kami akan terus mencari solusi yang paling efektif untuk Kak, yang paling tepat dengan psikologis Kak.. kami akan selalu berdoa mohon bantuan Sang Maha Kuat..
Kak tidak sendirian, ada kami yang dengan tulus mencintai dan menyayangi Kak..
Kak tidak sendirian.. !!! Kak tidak sendirian.. !!!

Ini adalah pilihan hidup Kak, kendali ada di Kak sepenuhnya.
Kita sama-sama fight ya Kak..!! Jangan menyerah dengan bisikan Iblis !!
Mencintai sesama jenis itu bukan pemberian dari Allah !! Hijrah total Kak.. !!
De’ akan terus sabar menunggu, sampai Kak siap kembali menjadi imam De’..

Luv U much, Kak <3

~~~~~

Surat itu.. surat untuk pria terkasihku, gemetar kupegang..
kepalaku serasa mau pecah, kakiku lemas tak mampu menopang tubuhku.
Dunia serasa kiamat, waktu serasa berhenti.
Ku terhenyak dengan apa yang kulihat dihadapanku.
Tertatih ku mendekati sekumpulan orang yang mengharu biru, sayup terdengar histeris adik2 dan istighfar mama berulang-ulang.
Ku tatap mayat yang terbujur kaku di hadapanku.
Darah segar masih mengalir dari pergelangan tangannya.
Ku jatuhkan tubuhku disamping badan pria terkasihku, kuletakkan surat di dadanya.
Tak mampu ku tahan airmataku, ku menangis…

Menangisi kebodohanku yang tidak peka masalahnya,
menangisi keterlambatanku yang tidak menemaninya,
menangisi ketidakmampuan keluarganya untuk membuatnya kuat,
menangisi keteledoran orang-orang di sekitarnya yang tidak peduli padanya,
menangisi kepengecutannya,
menangisi kepandirannya,
menangisi kesombongannya yang memilih menghadap Allah dengan jalan seperti ini,
ku menangis… ku menangis… T-T

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Inspired by someone who ever closed to me..

Coretan ini untuk teman-teman yang “sedang sakit” :
Di titik kebingungan seperti ini teman-teman harus cerdas memilih.
Semuanya ini adalah pilihan yang kendali / kontrolnya ada di tangan teman-teman.
Teman-teman tidak sendirian ada keluarga, ada rekan-rekan yang lain, ada kami (yang diamanati dan care) !!
Banyak kok orang yang sayang dan peduli, yang bersedia menemani teman-teman melewati itu semua sehingga “sembuh”.. Saya sayang teman-teman..

Luv u guys… <3

Posted in Intermezzo.

Leave a Reply