Ternyata Otakku Tidak Berfikir

Ku duduk termangu, memandangi figur laki-laki di hadapanku. Bersih wajahnya, lembut suaranya, sederhana penampilannya tapi penuh wibawa, bermakna dan ilmiah tutur katanya. Tidak terkesan menggurui, tidak terkesan memerintah, tapi apa yang disampaikannya sangat sangat menggugah hati.

Mungkin prinsip hidupnya yang membuat penampilannya begitu indah dilihat dan perkataannya begitu mendamaikan saat suaranya menyelusup ke telinga..
“Aku bukan siapa-siapa, sekedar manusia yang cinta Allah dan yang peduli pada sesama. Saat ku mencintai-Nya maka aku harus membuktikan cintaku. Saat ku peduli sesama maka aku harus sharing dan membantunya, sebagai bukti kepedulianku.
Dan bentuk realnya, aku hanya sekedar media penyampai dari Allah..hanya MEDIA, tidak lebih..!!”

Subhanallah… hanya itu kata yang mampu kuucapkan terhadap dirinya..
Semoga figur seperti dia yang kelak menjadi imamku..
Semoga Allah selalu menjaga kebersihan hatinya..
Amien..

“Apa sih hebatnya kita ??? Apa sih hebatnya kamu ??” ucapnya lembut tapi tegas mempertanyakan eksistensiku.. mempertanyakan kesombonganku sebagai single parent..
Ku terdiam membisu.. Mencoba menelaah ucapannya..
Jujur hati ini tersentak, masih kurang kah apa yang kulakukan untuk kehidupan yang layak bagi putriku ?? Masih kecil kah perjuanganku untuk kebahagiaan putriku ??
Masih belum maksimal kah usahaku untuk masa depan putriku ??
Sehingga perlu dipertanyakan lagi seperti itu… ?

Tapi ku sabar menanti kalimat berikutnya dari bibirnya. Aku sangat paham sekali style bicara dia, pertanyaan seperti itu hanya sebagai ice breaker dari diskusi kami..lalu kemudian dia akan memberi penjelasan detil dari pertanyaan yang terkesan melecehkan tadi..
Ah..segitu hapalkah aku pada gaya diskusinya, gaya bicaranya ??
Malu sendiri akhirnya… Ku tersipu malu

“Pernah kamu baca buku-buku tentang hewan ?? Dimana sisi ‘kebinatangan’ mereka mungkin lebih baik dari kita.”
“Ehm..aku tidak tahu kemana arah pembicaraan kamu” jawabku dengan tampang bingung.
Dia tersenyum manis..
“Begini… kamu selalu bercerita kehidupan single parent yang berat dan banyak tantangan yang berada diluar kontrol kamu. Iya kan ?? Secara implisit kamu juga bilang bahwa kamu telah berhasil melewati itu semua. Secara implisit, kamu bilang apa yang kamu lakukan sudah layak untuk dishare dengan yang lain..” dihentikannya sejenak kalimat berikutnya.
Ingin melihat respon ku atau ekspresi wajahku, mungkin.
Ku tetap terdiam membisu..

“Aku tidak bermaksud mengecilkan semua perbuatan dan perjuanganmu dalam menjalani episode hidupmu saat ini. Hanya saja aku tidak ingin kamu menjadi ujub, sombong dengan itu semua..
Karena sifat ini halus sekali, yang terkadang kita sendiri tidak menyadarinya..” kembali dia menghentikan kalimat dan menghela nafas sejenak.

“Aku akan cerita beberapa hewan, yang akan menjadi cermin untuk kita, untuk kamu dan untuk aku…sehingga kita bisa mengukur kualitas kita masing-masing. Itu jika kamu tidak keberatan..”
Aku mengangguk tanda setuju usulannya.

“Yang pertama tentang Pinguin. Saat telur-telur pinguin sudah keluar dari induknya, kegiatan pun padat dilakukan kedua orang tuanya. Sang pinguin jantan mendapat tugas untuk menghangatkan telur-telur tersebut selama 4 bulan. Melindungi dan menjaganya dari hewan jahat lainnya, yang akan memakan telur tersebut. Dia tidak berubah posisinya sedikit pun untuk istirahat. Karena sedikit saja berubah, kehangatan yang tercipta akan berkurang atau bahkan hilang. Sang jantan sampai susut badannya 45% dalam melakukan tugasnya tersebut.
Sedangkan pinguin betina yang bertugas mencari ikan untuk dimakan tiap hari. Tidak pernah menyerah mencari makanan sesulit apapun, sejauh apapun. Hanya satu yang terpikirkan telur-telurnya harus hangat terus, harus terlindungi dan tetap hidup.
Apa kamu sudah bertindak seperti pinguin betina atau pinguin jantan tersebut ??” pertanyaan retoriknya keluar. Aku hanya termenung, ku coba melihat ke belakang…sudah layakkah tindakanku sama seperti tindakan kedua pinguin itu..

Saat pulang kantor, sering kali pikiran dan fisikku lelah bahkan penat. Lalu aku dengan santainya meminta putri yang sedang merajuk diriku, untuk memahami kelelahan dan kepenatanku.
Ku minta dia agar tidak mengganggu diriku karena aku butuh istirahat atau tidur sejenak.
Padahal saat itu mungkin dia sedang butuh kehangatan dan perhatianku.
Ah..ternyata aku belum seberapa dibanding sisi kebinatangan pinguin dalam menjaga anak-anaknya..

“Kemudian Ikan Salmon..” dilanjutkan kembali kalimatnya
“Untuk menyelamatkan keturunannya, mereka harus berenang berpuluh-puluh kilometer jaraknya ke hulu sungai. Hanya untuk punya keturunan, terkadang mereka harus mati ditengah jalan.
Mereka mungkin mati karena dimakan ikan lain yang lebih besar, atau mati karena terkena arus yang deras, atau mati karena terbentur bebatuan saat berenang.
Gimana dengan kita ?? Apakah sudah seperti ikan salmon dalam menjaga keturunan kita ??
Apakah sudah sekuat tenaga bahkan rela mati untuk menjaga keimanan mereka sebagai hamba Allah ?? Apa kamu sudah sama seperti ikan salmon tsb ??” Pertanyaan retoriknya muncul kembali.

Ku terhenyak mendengar perjuangan salmon. Bagaimana dengan diriku selama ini ??
Sudah maksimal kah aku menjaga putri-ku ?? Bahkan rela kah aku untuk mati demi keimanan dan keislaman yang aku yakini ini ??
Jangankan hal ideal itu, yang lebih parah pun aku pernah melakukannya. Ku pernah merasa lelah dengan keberadaan putri, ku lebih nyaman hangout dengan teman-teman, ku lebih bersemangat saat berdiskusi dengan teman-teman di kantor, ku lebih memilih keliling negara hanya untuk memenuhi kebutuhan shopping ku dengan teman-teman facebook-ku, ku lebih enjoy saat clubbing bersama sobat-sobat feminisku. Ah…ternyata…

“Merenunglah…itu perlu dilakukan untuk memikirkan apakah kita sudah lebih baik dari mereka ??
Sudah pantaskah kita menaikkan diri kita sendiri, dengan hanya sedikit perjuangan kita ??” dia sadar sepertinya apa yang kupikirkan. Ku menunduk sedih. Mataku mulai berkaca-kaca.

“Satu hewan lagi, nyamuk.” dia memecah keheningan di antara kita.
“Nyamuk, seumur hidupnya selalu berada dalam masalah, nyawanya selalu diambang kematian.
Dari mencari makan, saat makan, setelah makan, hidupnya dikejar-kejar bahaya. Manusia ingin nyamuk itu mati. Padahal apa yang dilakukan hanya untuk sekedar mencari makan.
Coba kamu pikirkan, nyamuk terbang di sekitar badan kita mencari-cari posisi yang aman agar dia bisa berhenti terbang dan makan. Tangan kita udah siap-siap memukul nyamuk itu.
Saat dia hinggap, menghisap darah kita, tangan kita memukulnya. Kalo tidak kena, kita kejar-kejar nyamuk itu seakan tidak ikhlas darah kita telah dihisap. Lalu kita pukul nyamuk itu lagi.
Kalo nyamuk itu mati apalagi kita tahu badannya gemuk dan banyak darah yang menempel di tangan kita, ada kepuasan diri yang sangat. Bahkan gatal yang ada tidak menjadi penting lagi.” ku tersenyum membayangkan kronologis kematian nyamuk yang sering aku lakukan hampir tiap malam.

“Kapan pun nyamuk selalu hidup dalam masalah, tapi dia tetap berusaha untuk mencari yang halal untuk dirinya, darah manusia. Dia tidak kemudian mencari makanan yang lain, yang tidak halal. Lalu bagaimana dengan kita ??
Sudah kah kita menjaga hal itu ?? Kehalalan di setiap rupiah kita ??
Menjaga untuk anak-anak kita, karena nantinya akan membaur dalam darah anak-anak kita ??” paparannya lagi-lagi membuatku terhenyak. Ku terdiam…ku menunduk…ku malu dengan diriku sendiri… Kadang aku lebih menuntut hak-ku, dan mengabaikan kewajibanku.
Aku sering mengabaikan amanat-amanat yang ada. Lalu masih halal kah semua rupiah yang aku dapat, jika kewajiban yang harusnya aku lakukan tidak aku jalankan dengan baik.
Bahkan sering aku abaikan…

Sisi ‘kebinatangan’ hewan-hewan itu ternyata lebih baik dari diriku..
Aku tidak belajar dari itu semua. Aku terlalu sombong dengan status single parent ku.
Aku terlalu sombong dengan status pekerjaanku.
Aku terlalu sombong dengan kondisi putri-ku yang lebih cantik fisiknya di banding beberapa temannya.
Aku terlalu sombong… Terlalu sombong… !!!
Dan ternyata otakku tidak berfikir selama ini… !!!
Aku tidak belajar dari semua yang ada di sekitarku… !!!
Aku tidak belajar….!!!

Inspired by someone, @ DT

Posted in Intermezzo.

Leave a Reply