Dear Bee

24 Oktober 2008

Dear Bee

Ini surat pertama untukmu. Ku beranikan diri untuk menuliskannya, meskipun aku khawatir dg respon darimu. Aku takut kamu akan marah bahkan aku sangat takut jika kamu justru menjauhi aku, sebagai bentuk ketidaksukaan dan ketidaknyamanan dirimu.

Hmm… aku hanya ingin menyampaikan kalimat singkat & sederhana.. Sepertinya.. rasa kagum padamu dan rasa nyaman saat bersamamu, membuat  ku tak mampu mengendalikan perubahan emosi yang ada… aku mulai menyayangi dirimu, dengan semua yang ada di dirimu..

Maafkan aku bee….

 

 

25 Oktober 2008

Dear Bee

Ini surat kedua, bee.. Tdk banyak yang bisa ku tulis dalam coretan ku ini..

Ku hanya ingin menyapamu, dengan segenap kerinduan yang ada…”Hi bee..  Kurindu berada di dekatmu…”

 

 

17 November 2008

Dear Bee

Semoga kamu tidak terganggu dengan surat ketiga ku ini.. Kuhanya ingin menceritakan betapa berwarnanya hatiku.. Terkadang pink, orange, biru, kuning, hijau. Tidak ada makna dari tiap warna tsb. Itu semua hanya metaphora yang menjadi visualisasi betapa berwarnanya hatiku saat ku menyayangi dirimu.

Ku menikmati setiap detik kebersamaan kita. Senyum malu kamu terlihat jelas, saat ku nyanyikan sebuah lagu cinta tentang keberadaan Bintang.

Bee.. Ku tahu kamu tidak akan bisa menerima uluran tanganku. Ku tahu kamu tidak akan berhenti sejenak menghampiriku. Ku tahu kamu tidak akan berlari ke arahku untuk memanjakanku. Tapi, tidak usah khawatir terhadap respon dan dampaknya terhadap diriku… Karena aku sudah memprediksi itu semua. Sehingga aku sudah mempersiapkan kondisi hatiku, bahwa “aku akan kecewa”

Aku akan tetap menjaga hatiku, bee… Karena aku tidak bisa membukanya pada yang lain.

 

 

20 Februari 2009

Dear Bee

Ku bahagia sekali kemarin melihat kau tersenyum. Binar mata kebahagiaan masih selalu terpancar di bening bola matamu. Ah seandainya mata indah itu bisa selalu ku lihat…. Itu yang muncul di pikiranku saat ku lihat dirimu.

Aku rindu dirimu bee… Ku coba mengalihkan kerinduanku pada entitas lain, agar semua itu hilang. Tapi berulang kali juga aku justru kehilangan semangat bersama entitas tersebut.

Ternyata pesona mu terlalu kuat bee…

Ku tak mampu menciptakan dunia baru tanpa mu.. Ku tak mampu menafikkan dirimu dalam perjalanan hidupku.. Ku tak mampu menemukan figur lain sehebat dirimu.. Pasti surat ke empat ini pun masih membuat kamu tidak percaya dengan perasaanku padamu, bee.

Kamu selalu berfikir, “masa sih sebegitu berpengaruhnya diriku bagimu ??”

Seandainya aku mampu berbohong, aku akan bilang “kamu adalah sesuatu yang biasa aja, tidak berarti apapun !!”

Tapi aku tidak mampu bee… Aku tak mampu berbohong padamu…

Aku masih memiliki hati, dimana ruangnya penuh dengan dirimu..

 

 

17 November 2009

Dear Bee

Ini surat kelima yang mampu aku tulis, tentang hatiku, tentang dirimu. Setelah ini, aku mungkin tidak akan mampu menulis surat lagi. Aku ingin mengubur diri dan harapanku.. Agar kamu bisa lebih tenang, tentunya. Tak sengaja aku baca tulisan pribadimu. Tertuang keinginan-keinginan pribadimu, berharap tidak pernah muncul wajahku dalam pikiranmu, berharap tidak pernah ada namaku dalam hatimu, berharap keberadaanku tidak pernah terlihat oleh matamu…

Shock, jelas lah bee.. Tapi itu memang yang harus terbaca olehku, menurut Allah. Sehingga hal itu yang terijin oleh-Nya.

Ku ingin memenuhi keinginanmu. Kuingin mewujudkan harapanmu. Kuingin menciptakan kebahagiaanmu.

Karena itulah bee, ku akan mengubur raga dan asaku terhadapmu, tapi ku tak mampu menghilangkan rasa ini. Jadi ku akan menghentikan semuanya. Ku akan melangkah, melanjutkan hidupku… Walaupun tanpa rasa, tanpa ruang hati yang tersisi untuk yang lain..

Terima kasih bee, kamu tetap yang terindah… Yang terbaik…

Luv u much.. Bee..

 

———————————————————–

 

Ku lipat semua surat itu dengan rapi. Ku biarkan mata yang sedari tadi menghangat, menjatuhkan airmatanya. Haru, sedih, hancur, hampa.. Itu yang ku rasa saat ini. Namun ini harus ku lakukan, agar ku bisa mewujudkan betapa cinta dan sayangku padanya tulus… Cinta dan sayang yang tidak berdampingan dengan nafsu dengan egoisme… Karena itu, ku akan menghilang darinya. Mungkin selamanya, sebaiknya memang selamanya…

 

Ku pandangi perapian di hadapanku. Ku pegang erat-erat 5 surat untuk bee yang tidak pernah aku berikan padanya. Tidak aku berikan, itu yang terbaik menurutku. Walaupun ku ingin dengan sangat menyampaikannya langsung ke tangannya sambil memandang wajah dewasanya..tapi selalu ku urungkan niat itu. Sehingga semua surat itu hanya mampu kutulis, tapi tidak pernah diterima bee.

 

Ku lemparkan surat itu satu per satu ke perapian. Ku pandangi api yang menjalar sedikit demi sedikit, menghancurkan kertas ‘cintaku’. Bak membumi hanguskan harapan dan mimpiku… Kubiarkan asap menerbangkan rinduku.. Mengantarkan partikel keikhlasanku pada keputusan Allah.

 

Ku duduk perlahan sambil tak lepas mata ini melihat bara kertas ‘cintaku’. Ku termenung dan berdoa, semoga langkah yang ku ambil kali ini adalah yang terbaik. Esok hari ku akan menikah dengan seorang pria baik, yang berjanji akan menerima aku apa adanya, yang akan melindungiku, yang akan membawa ku menggapai kebahagiaan dunia akhirat dari Allah..

 

Ku tidak mencintainya, bee…

Ku tidak mampu mengalihkan rasa ini ke dia, bee..

Ku tidak mampu mengisi ruang hatiku dengannya, bee..

Karena smua ruang yang ada telah penuh oleh warnamu..

 

Tapi ku coba belajar untuk menjadi ma’mum baginya..

Bismillah…

Aku limbung, tanpa tenaga saat ini…

Posted in Intermezzo.

Leave a Reply